jangan caci Indonesia-ku...
jangan caci merah putih-ku...
jangan caci garuda-ku...
ini bukan hanya Indonesia-ku...
ini bukan hanya Indonesia-ku...
merah putih-ku... garuda-ku...
ini adalah milik kita bersama...
yang harus kita jaga bersama !!!
tapi mengapa hanya sedikit yang sadar akan itu ?
bahwa Indonesia adalah tumpah darah-nya...
bahwa merah putih adalah semangat-nya...
bahwa garuda adalah kebanggaan-nya...
mereka berkata “Aku malu jadi Indonesia!”
bahkan dalam jejaring sosial pun
sebuah group mengatas namakan
dalam forum milik negara tetangga pun
seorang warga Indonesia mengatakan
entah berapa banyak keluar kalimat
bahkan terucap kalimat
tidak kah ada barang sedikit saja
rasa sedih
membersit dalam hati-mu.?
AKU... KALIAN... KITA...
tawa yang biasanya kita gerai
perlahan redup bungkam oleh “cacian”
apakah ini adalah hasil dari tangan kita ?



Indonesia Ibu Pertiwi kini bersedih
Sang merah putih terpaksa harus pudar menjadi warna “pink”
Sang Garuda tampak gagah pun meneteskan air mata
hanya karena kesalahan seorang atau sekelompok orang
Indonesia yang harusnya menjadi tanah air kita
Kini malah menjadi tumpahan kekesalan kita
Indonesia tumpah darah kita bukan tumpah kekesalan kita
Indonesia bukan perampok...
Indonesia bukan penjajah...
Indonesia bukannya tak punya hati nurani...

Indonesia hanya kumpulan kepulauan dan lautan,
yang tak berakal...tak bisa berkata...
dia tak pandai bersilat lidah hingga mampu membela diri
tuk tunjukkan bahwa bukan Indonesia yang salah
Kasihan Indonesia-ku... 
Merah putih yang melambangkan keberanian dan kesucian seakan tak berarti
Garuda yang melambangkan jiwa yang kuat & gagah pun seakan mati
Coba ketuk hati kita masing-masing
Mari kita tanggalkan ego gila kita
Sejenak saja kita berpikir
Apa yg kita persembahkan agar bisa buat Indonesia bangga
Buat Merah putih kembali berkibar dg lantang di udara
Buat Garuda tersenyum dengan gagahnya

ratusan juta jiwa tumbuh dan besar di Indonesia pertiwi ini
Masing-masing mereka dengan bakat anugerah Ilahi-nya
saling berlomba-lomba berkarya
entah untuk siapa karya-karya itu akan mereka persembahkan
hanya mereka dan Tuhan mereka yang tahu
apa yang tersembunyi di hatinya
sebagian orang juga asyik berlomba-lomba
mengumpulkan kertas-kertas bertuliskan ‘rupiah’
kertas-kertas ajaib yang mampu menutup mata hati
membuat sang kolektor bak memakai kacamata ‘hitam’ 
yang menambah kesan gagah pada dirinya
Garuda saja kalah gagah darinya 
Mereka mampu wujudkan semua yg diinginkan

Rasanya ingin seperti mereka
Tapi Tuhan-ku berkata “tak usah lah...”
Aku protes “kenapa?
Aku ingin tampak gagah seperti mereka! Apa itu salah?”
Tuhan-ku kembali menyahut
“untuk tampak gagah...
tak mesti harus dg memakai kacamata hitam
“untuk tampak gagah...
tak mesti harus dg memakai kacamata hitam
Tak mesti harus dengan banyaknya koleksi
kertas berwarna-warni yg berakibat membutakan hati
kertas berwarna-warni yg berakibat membutakan hati
Gagah-lah dg hati dan akal-mu...
bukan nafsu dan ego-mu”

bukan nafsu dan ego-mu”
Aku terdiam dan berpikir ...
Ku katakan pada hati-ku...
“santai aja lah nikmati yg ada...
“santai aja lah nikmati yg ada...
Kebahagiaan tidak semata-mata oleh karena materi
Tapi karena sesuatu yang dinamakan ‘hati nurani’
Yang ada pada diri
Yang tak perlu susah payah dicari”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar