Masih ingat cerita Kehidupan Amerika (Part I) kemarin ?
ini saya hadirkan kembali lanjutan dari tulisan Bapak H.M.Gazali (alm) yang beliau beri judul 'Melongok Peri Kehidupan Sosial di Amerika'
Selamat membaca!!
Orang-orang Amerika yang kebanyakannya non-muslim atau kafir ‘dalam istilah kita’ dan mereka kelak akan dijebloskan oleh Allah ke dalam neraka tampak lebih santun di jalan raya ketimbang kita yang menurut kita bahwa sorga yang ada di akhirat nanti adalah milik kita.

Sebuah contoh, orang yang mau menyeberang jalan lebih diutamakan untuk menyeberang jalan terlebih dahulu dan pengendara mobil pun berhenti dan mobil baru dijalankan setelah orang menyeberang, sementara di Indonesia bagi orang yang mau menyeberang jalan harus memiliki kesabaran yang luar biasa demi menghormati para pengguna jalan, orang-orang kaya yang memiliki kendaraan yang barangkali beranggapan bahwa merekalah yang lebih utama menggunakan jalan raya ketimbang para pejalan kaki yang miskin papa.
Tak pernahkah kita merenung makna sebuah hadits yang berbunyi:
.قال رسول الله ص.م.: الراحمون يرحمهم الرحمن. ارحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السمآء
"Orang-orang yang memiliki sikap kasih sayang kepada orang lain, akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah orang yang berada di bawahmu (yang lebih rendah darimu, yang lebih lemah darimu, dan yang lebih miskin darimu), niscaya orang-orang di atas (maksudnya, Allah dan para malaikat-Nya dan orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya darimu, lebih kuat darimu, dan lebih kaya darimu) akan menyayangimu." (H.R. al-Bukhari)
Orang-orang Amerika merasa bahwa menekan klakson itu haram
(sama hukumnya dengan umat Islam memakan daging babi), sementara bagi umat Islam di Indonesia, menekan klakson adalah suatu kemestian agar orang berhati-hati agar tidak tertabrak oleh kita, sementara kita sendiri kita anggap sudah hati-hati, dan apabila tertabrak, itu sudah takdir Tuhan. Padahal baru saja kita mengucapkan salam kepada orang lain:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Yang artinya: Semoga anda selamat, dan selalu memperoleh rahmat dan berkah dari Allah SWT.
Apakah salam kita masih dalam bentuk ritual, mengucapkan salam itu sunat hukumnya dan kita mendapatkan pahala dari Allah SWT dan menjawabnya hukumnya wajib dan bila tidak dijawab berdosa, sementara memelihara keselamatan orang lain sebisanya atau semampunya saja. Kalau toh tidak mampu, maka tidak mengapa, yang penting kita sudah mengucapkan salam.
Di Amerika, orang tidak sembarangan membuang sampah, tidak seperti di tempat kita, di mana pun kita bisa membuang sampah. Meskipun kita sangat hafal sabda Rasulullah SAW:
قال رسول الله ص.م.: النظافة نصف الإيمان
Kebersihan itu bernilai separoh iman.
Pernah kita buang air kecil di kamar kecil di sebuah mesjid di Amerika, alangkah tersentak dan kagumnya menyaksikan sebuah toilet yang dihiasi bunga-bungaan, dan semerbak mewangi, dengan dihiasi lampu dengan pernik-pernik yang indah dan karpet tebal, kita pun khawatir kalau-kalau air seni terjiprat ke karpet, maka kita pun hati-hati buang air kecil dan mencucinya agar tidak basah, kita lap dengan tissue yang telah disediakan. Barangkali sulit kita bayangkan ada kamar kecil yang bisa digunakan menjadi tempat tidur ini di Indonesia.
Barangkali budaya bersih masih terlalu sulit dan terlalu ideal untuk dilaksanakan. Dan kita masih beranggapan bahwa santri atau siswa kita yang hapal dengan baik hadits tersebut dan mampu menuliskannya dengan khat yang indah sudah layak diberi nilai delapan bahkan sembilan, meskipun orangnya kotor dan kumuh.
Semoga ini bisa menjadikan renungan bagi kita. Jika kita beranggapan bahwa orang muslim itu adalah sosok yang membuat orang lain merasa selamat dengan kehadirannya, sebagaimana yang disuarakan oleh Rasulullah SAW bahwa: “Orang muslim itu adalah apabila orang muslim yang lain merasa selamat dan aman dari kejahatan dirinya”. Begitu pula jika kita beranggapan bahwa orang yang mengaku beriman itu membuat orang lain merasa aman dengan kehadirannya, maka akan sangat baik pada setiap kita shalat, kita memohon petunjuk kepada Allah agar membetulkan langkah dan meluruskan jalan kita dan kirta tutup shalat kita dengan do’a “al-Salam ‘alaikum”, yang berarti “Semoga anda selamat sejahtera.” Semogalah setiap kita selesai shalat, sikap kita menjadi lebih baik dari sebelum kita shalat, sehingga tercapailah tujuan shalat kita:
إن الصلاة تنهى عن الفحشآء والمنكر. العنكبوت/29: 45
Sesungguhnya shalat itu mencegah sikap-sikap keji dan mungkar. (Q.S. Al-Ankabut [29]: 45)
Semoga dengan shalat akan semakin baiklah hal ihwal orang lain terhadap keberadaan kita. Dan orang lain tidak takut, khawatir, syak wasangka.
Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kemurahan hati terhadap saudara-saudara kami, seagama, sebangsa, dan senegara, meskipun berbeda agama. Jadikanlah diri kami pelindung bagi kaum yang lemah, kelompok minoritas, masyarakat miskin, atau masyarakat bawah. Kalau bukan kami yang menyayangi mereka siapa lagi ya Allah? Bukanklah kami sudah sering membaca basmalah agar hati kami disirami sikap rahmah seperti yang tergambar dalam sikap Engkau al-Rahman (Maha Pengasih) dan al-Rahim (Maha Penyayang).
Ya Allah tautkanlah rasa persaudaraan di hati kami, janganlah Engkau cerai beraikan kami dengan sikap kasar, beringas, brutal, sikap tak tahu menahu, sikap tak mau peduli terhadap kelompok yang lemah dan Engkau Maha Pengasih dari seluruh yang pengasih. Limpahkan sikapmu yang maha baik itu kepada kami ya Allah.















