Senin, 21 Februari 2011

Kehidupan Amerika (Part II)

Masih ingat cerita Kehidupan Amerika (Part I) kemarin ?Ugly Chick emoticon, smiley, emo, smilies ini saya hadirkan kembali lanjutan dari tulisan Bapak H.M.Gazali (alm) yang beliau beri judul 'Melongok Peri Kehidupan Sosial di Amerika'menu Selamat membaca!! 


Orang-orang Amerika yang kebanyakannya non-muslim atau kafir ‘dalam istilah kita’ dan mereka kelak akan dijebloskan oleh Allah ke dalam neraka tampak lebih santun di jalan raya ketimbang kita yang menurut kita bahwa sorga yang ada di akhirat nanti adalah milik kita. 

Sebuah contoh, orang yang mau menyeberang jalan lebih diutamakan untuk menyeberang jalan terlebih dahulu dan pengendara mobil pun berhenti dan mobil baru dijalankan setelah orang menyeberang, sementara di Indonesia bagi orang yang mau menyeberang jalan harus memiliki kesabaran yang luar biasa demi menghormati para pengguna jalan, orang-orang kaya yang memiliki kendaraan yang barangkali beranggapan bahwa merekalah yang lebih utama menggunakan jalan raya ketimbang para pejalan kaki yang miskin papa.

Tak pernahkah kita merenung makna sebuah hadits yang berbunyi:
 .قال رسول الله ص.م.: الراحمون يرحمهم الرحمن. ارحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السمآء
"Orang-orang yang memiliki sikap kasih sayang kepada orang lain, akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah orang yang berada di bawahmu (yang lebih rendah darimu, yang lebih lemah darimu, dan yang lebih miskin darimu), niscaya orang-orang di atas (maksudnya, Allah dan para malaikat-Nya dan orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya darimu, lebih kuat darimu, dan lebih kaya darimu) akan menyayangimu." (H.R. al-Bukhari

Orang-orang Amerika merasa bahwa menekan klakson itu haram (sama hukumnya dengan umat Islam memakan daging babi), sementara bagi umat Islam di Indonesia, menekan klakson adalah suatu kemestian agar orang berhati-hati agar tidak tertabrak oleh kita, sementara kita sendiri kita anggap sudah hati-hati, dan apabila tertabrak, itu sudah takdir Tuhan. Padahal baru saja kita mengucapkan salam kepada orang lain: 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 Yang artinya: Semoga anda selamat, dan selalu memperoleh rahmat dan berkah dari Allah SWT

Apakah salam kita masih dalam bentuk ritual, mengucapkan salam itu sunat hukumnya dan kita mendapatkan pahala dari Allah SWT dan menjawabnya hukumnya wajib dan bila tidak dijawab berdosa, sementara memelihara keselamatan orang lain sebisanya atau semampunya saja. Kalau toh tidak mampu, maka tidak mengapa, yang penting kita sudah mengucapkan salam.

Di Amerika, orang tidak sembarangan membuang sampah, tidak seperti di tempat kita, di mana pun kita bisa membuang sampah. Meskipun kita sangat hafal sabda Rasulullah SAW:
 قال رسول الله ص.م.: النظافة نصف الإيمان
Kebersihan itu bernilai separoh iman

Pernah kita buang air kecil di kamar kecil di sebuah mesjid di Amerika, alangkah tersentak dan kagumnya menyaksikan sebuah toilet yang dihiasi bunga-bungaan, dan semerbak mewangi, dengan dihiasi lampu dengan pernik-pernik yang indah dan karpet tebal, kita pun khawatir kalau-kalau air seni terjiprat ke karpet, maka kita pun hati-hati buang air kecil dan mencucinya agar tidak basah, kita lap dengan tissue yang telah disediakan. Barangkali sulit kita bayangkan ada kamar kecil yang bisa digunakan menjadi tempat tidur ini di Indonesia. 

Barangkali budaya bersih masih terlalu sulit dan terlalu ideal untuk dilaksanakan. Dan kita masih beranggapan bahwa santri atau siswa kita yang hapal dengan baik hadits tersebut dan mampu menuliskannya dengan khat yang indah sudah layak diberi nilai delapan bahkan sembilan, meskipun orangnya kotor dan kumuh. 

Semoga ini bisa menjadikan renungan bagi kita. Jika kita beranggapan bahwa orang muslim itu adalah sosok yang membuat orang lain merasa selamat dengan kehadirannya, sebagaimana yang disuarakan oleh Rasulullah SAW bahwa: “Orang muslim itu adalah apabila orang muslim yang lain merasa selamat dan aman dari kejahatan dirinya”. Begitu pula jika kita beranggapan bahwa orang yang mengaku beriman itu membuat orang lain merasa aman dengan kehadirannya, maka akan sangat baik pada setiap kita shalat, kita memohon petunjuk kepada Allah agar membetulkan langkah dan meluruskan jalan kita dan kirta tutup shalat kita dengan do’a “al-Salam ‘alaikum”, yang berarti “Semoga anda selamat sejahtera.” Semogalah setiap kita selesai shalat, sikap kita menjadi lebih baik dari sebelum kita shalat, sehingga tercapailah tujuan shalat kita: 
 إن الصلاة تنهى عن الفحشآء والمنكر. العنكبوت/29: 45
Sesungguhnya shalat itu mencegah sikap-sikap keji dan mungkar. (Q.S. Al-Ankabut [29]: 45)
Semoga dengan shalat akan semakin baiklah hal ihwal orang lain terhadap keberadaan kita. Dan orang lain tidak takut, khawatir, syak wasangka. 

Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kemurahan hati terhadap saudara-saudara kami, seagama, sebangsa, dan senegara, meskipun berbeda agama. Jadikanlah diri kami pelindung bagi kaum yang lemah, kelompok minoritas, masyarakat miskin, atau masyarakat bawah. Kalau bukan kami yang menyayangi mereka siapa lagi ya Allah? Bukanklah kami sudah sering membaca basmalah agar hati kami disirami sikap rahmah seperti yang tergambar dalam sikap Engkau al-Rahman (Maha Pengasih) dan al-Rahim (Maha Penyayang). 

Ya Allah tautkanlah rasa persaudaraan di hati kami, janganlah Engkau cerai beraikan kami dengan sikap kasar, beringas, brutal, sikap tak tahu menahu, sikap tak mau peduli terhadap kelompok yang lemah dan Engkau Maha Pengasih dari seluruh yang pengasih. Limpahkan sikapmu yang maha baik itu kepada kami ya Allah.

Minggu, 20 Februari 2011

Kehidupan Amerika (Part I)

Sesuai judul di atas maka tak ada salahnya kalau kali ini saya cantumkan gambar bendera milik negeri Paman Sam yang merupakan negara terbesar ke-3 atau ke-4 berdasarkan total luas wilayahnya dan terbesar ke-3 berdasarkan jumlah penduduk.

Tulisan saya kali ini diambil dari tulisan Bapak Alm. H.M. Gazali -allahummaghfir lahu wa 'aafihi wa'fu 'anhu- yang kebetulan memang berkesempatan berkunjung ke negri Paman Sam tersebut. berikut kisah yang beliau tuliskan... 

Pada bulan September 2002 yang lalu ada 25 orang kyai dari pesantren di Indonesia yang diundang oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Mereka ditempatkan di Amherst, Massachussettes. Mereka mendapatkan training dari ITD (Institute for Training and Development) University of Massachussettes USA kerjasama dengan INSIST (Institute for Social and Transformation) Yogyakarta selama dua minggu ditambah seminggu ke Albany, Washington D.C., dan New York. 

Ada sejumlah pertanyaan yang tentu saja terlontar untuk program tersebut. Untuk apa para kyai tersebut diundang ke Amerika? Apakah ada pesantren di Amerika Serikat, sehingga mereka diundang untuk mengikuti training di sana? Ataukah justeru mereka diundang ke sana hanya untuk sekadar cuci otak agar pemikiran mereka dapat dipengaruhi oleh pihak Amerika dan dapat membenarkan sikap arogansi Amerika yang terlihat semakin nyata saat ini? Pertanyaan itu wajar saja muncul mengingat hampir dapat dipastikan bahwa di Amerika tentu saja kecil kemungkinan ada pesantren. Kalau ingin mengadakan training kepesantrenan untuk para kyai, mengapa harus ke Amerika, tidak ke Timur Tengah? Tentu saja diundangnya sejumlah kyai pesantren ke Amerika tersebut dianggap oleh masyarakat Indonesia sebagai usaha Amerika untuk mendinginkan suasana kemarahan umat Islam yang tampak semakin geram terhadap ulah negara Adidaya tersebut kepada sejumlah negara Islam. Bahkan para kyai sendiri pun agak bertanya-tanya dan malahan bercampur syak wasangka, mengapa mereka diundang ke Amerika Serikat?

Ketika di Amerika, kyai tersebut dibawa ke tempat-tempat pendidikan, dari pendidikan pra-TK, TK, SD (mencakup SMP) baik SD Islam maupun SD biasa, SMA baik negeri maupun swasta seperti Cushing Academy (SMA termahal di Amerika yang biaya pertahunnya sekitar 350 juta), Universitas George Town yang memiliki Fakultas tentang Islamic Studies. 

Dari program training yang diberikan oleh ITD yang kebanyakan waktunya, para peserta dibawa melihat-lihat secara langsung pengelolaan pendidikan di Amerika Serikat, ternyata cukup banyak hal yang dapat dijadikan bahan pelajaran dan bandingan untuk pengembangan program pembelajaran di Indonesia. 

Kalau dalam Islam, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad”, maka tampaknya, di Amerika gaung hadits tersebut lebih menggema. Sebagai contoh, pendidikan di Indonesia dimulai sejak TK sampai dengan S.3, sedangkan di Amerika sebelum TK masih ada pra-TK di mana anak-anak titipan dititipkan di tempat asuhan yang tidak hanya sekadar tempat penitipan anak oleh orang tua yang bekerja di kantor, akan tetapi tempat penitipan anak tersebut dilengkapi dengan aneka ragam alat bermain sehingga sebelum anak masuk TK, mereka sudah mengerti banyak tentang alat-alat peraga. Contoh lain, di suatu kelas di salah satu SD di Amerika, untuk satu kelas saja memiliki perpustakaan tersendiri, memiliki televisi yang dilengkapi dengan CD player dan handy camera, kelas yang dipenuhi dengan tempelan foster-foster dunia fauna dan flora, angkasa, fisika dan lainnya yang membuat siswa yang baru saja masuk ke dalam kelas, sebelum membuka buku, baru melihat suasana kelas, sudah terbuka pikiran mereka terhadap dunia ilmu pengetahuan. SMA di sana memiliki perpustakaan yang mungkin lebih besar dari perpustakaan daerah serta dilengkapi dengan internet, bahkan mereka memiliki peralatan shooting yang lengkap dan peralatan yang mutakhir. Mereka memiliki studio musik, teater, peralatan cetak, dan olahraga yang serba lengkap. Menyaksikan Perpustakaan Universitas Amherst yang memiliki 26 tingkat saja sudah membuat kita berdecak kagum, apalagi kalau kita melihat isi perpustakaannya yang amat lengkap. Dan yang menarik lagi para orangtua yang penglihatan mereka sudah agak rabun sering didatangi sukarelawan-sukarelawan dari anak-anak SMA yang datang ke rumah mereka untuk membacakan buku-buku yang mereka senangi, dan apabila buku tersebut memiliki kaset, maka siswa (sukarelawan) tersebut meminjamkan ke perpustakaan yang memiliki kaset tersebut untuk diperdengarkan kepada para orangtua yang tidak begitu mampu lagi membaca. 

Dari perjalanan ke Universitas George Town diperoleh keterangan bahwa dari 11 September 2001 ada hikmah peristiwa yang bisa diambil, yakni, masyarakat Amerika yang sebelum peristiwa 11 September 2001 memeluk agama Islam setiap hari tidak kurang dari sekitar 2000-an orang, setelah peristiwa 11 September 2001 tersebut orang yang masuk Islam berlipat ganda 3x lipat bahkan lebih yakni antara 6000 hingga 7000 orang yang berislam setiap hari. Ada beberapa hal yang mendukung semakin semaraknya orang Amerika memeluk Islam; hal itu dimungkinkan oleh pengaruh bacaan. Karena buku yang paling laku di Amerika saat ini adalah pertama tentang siapa Usamah ibn Laden?, kedua tentang apa itu Islam? Selain itu tentang peri kehidupan sufistik kebanyakan umat Islam di Amerika. Umat Islam banyak yang hidupnya sederhana akan tetapi mereka dapat hidup tenang dan tenteram, sementara orang Amerika kebanyakan, mereka hidup bergelimang harta, namun mereka sering merasa dengan memanjakan diri dengan harta pun mereka tidak merasa puas dan tenang, bahkan banyak di antara mereka yang justeru semakin gelisah. Nuansa kehidupan seperti itulah yang barangkali membuat mereka lebih tertarik untuk memilih Islam.

Minggu, 13 Februari 2011

Maher Zain

baarakallaahu lakumaa
wa baaroka ‘alaikumaa...
wa jama’a baynakumaa fii khair...

Tak ada yang tak kenal dengan rangkaian kalimat di atas. Rangkaian kalimat di atas adalah do’a yang diajarkan oleh Baginda Nabi –khotamul anbiyaa Muhammad bin Abdullah habibullah sholli wa sallim ‘alaih- untuk para pengantin.

Bapak Fauzhil Adhim dalam bukunya Kupinang Kau Dengan Hamdalah menyebutkan bahwa do'a ini lebih utama diucapkan untuk si pengantin. Bukan ucapan "moga langgeng yaa...banyak anak...diberi rizki yang banyak..." and bla bla bla.... Mengapa?   Karena ketika si pengantin telah mendapat berkah dari-Nya maka insyaAllah yang lain bakal ngekor deh...rezki lancar...banyak anak...dan dapat sakinah mawaddah wa rahmah (kalo g salah seh gitu kata bapa Fauzhil Adhim, aku lupa soalnya bukunya lagi dipinjem temen). Untuk lebih jelasnya silahkan kawan2 hunting bukunya di toko-toko terdekat atau find it here 

Salah satu temanku berkata, “eh...ada lagu Barakallah lho !!” Sontak aku jadi penasaran dan mengalunlah lagu dengan lirik awal :


We’re here on this special day...
Our hearts are full of pleasure... 
A day that brings the two of you... 
Close together...
We’re gathered here to celebrate... 
A moment you’ll always treasure...
We ask Allah to makeyour love... 
Last forever... 

Aku pun tertarik lalu copy-paste lagu tersebut ke laptop kesayanganku ini. Ketertarikanku hanya berhenti sampai di situ. Tak ada keinginan untuk mengetahui siapa itu Maher Zain. Aku hanya bersikap masa bodoh. Dan dalam jejaring sosial pun sering ku temukan nama Maher Zain nampang sebagai music favorit kawan-kawan facebook-ku. Aku tetap saja masa bodoh sampai akhirnya adikku bertanya, “ka...pernah dengar lagu ini?” mengalun lah irama musik...  menu

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
Wow...aku tersanjung oleh kata-kata dalam lirik lagu itumenu  Kembali nama Maher Zain tampil di otakku. Dari dua buah lagu yang ku dengar ini akhirnya membuatku tertarik untuk mengenal siapa itu Maher Zain. Browsing di internet itulah satu-satunya jalan, pikirku    Akhirnya pilihanku tertuju pada tulisan dari Wikipedia tentang Maher Zain. Dari situ aku tahu bahwa dia adalah seorang penyanyi, musisi, penulis lagu, dan komposer kelahiran Tripoli, Lebanon. Ayahnya Mushtafa Maher adalah seorang penyanyi lokal di kota Tropoli itu. Ketika berumur 8 tahun mereka sekeluarga pindah ke Swedia. 

Januari 2010 kemarin, lagunya 'Ya Nabi Salam Alayka' menyabet gelar 'the best song for 2009' pada Nujoom FM -stasiun musik terbesar di Timur Tengah. ia mengalahkan Hossein Al-Jismi, Mohammed Mounir dan Sami Yusuf.


Lelaki kelahiran 16 Maret 1981 ini telah me'releas'  album pertamanya "Thank you Allah" pada tanggal 1 November 2009. Album yang berisikan 13 lagu dan 2 bonus track. Waaahh...jadi pengen koleksi albumnya ntar milk box head emoticon, smiley, emo, smilies Untuk lebih lengkapnya tentang om Maher Zain, kawan2 bisa lihat di sini menu  twitternya juga ada lho...and jangan lupa follow me juga yaaa @love34ch0ther biar aku punya banyak temen 



Sabtu, 12 Februari 2011

you're my hero,dad.!!!

Sosok yg kadang tidak disukai karena 'keras'-nya ialah dia makhluk yg sering dipanggil dg sebutan Ayah, Bapak, Abi, Abah, atau sejenisnya. Berikut adalah kisah tentang ayah. Selamat membaca . .


Suatu ketika, seorang anak wanita bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut dan badannya yang bungkuk, disertai suara batuk-batuk, "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut dan badan Ayah kian bungkuk ?" 

Sang ayah menjawab, "Sebab aku laki-laki, nak…“ Itulah jawaban ayahnya. 

Anak wanita itu bergumam, " Aku tidak mengerti, Ayah." 

Jawaban ayahnya itu membuatnya tercenung penuh rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanitanya itu. Kemudian ditepuknyalah bahunya sambil berkata: "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki." 

Bisikan ayahnya tersebut membuat anak wanita itu bertambah bingung. Karena penasaran, anak wanita itu menghampiri ibunya, lalu bertanya: "Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut dan badannya kian bungkuk? Tapi Ayah sepertinya tidak mengeluh dengan keadaannya itu. Tidak ada keluhan dan rasa sakit." Ibunya menjawab: "Anakku, seorang laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarga memang akan mengalami hal demikian." Hanya itu jawaban sang Bunda.

Anak wanita itu pun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi sejauh ini dia tetap belum menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Hingga pada suatu malam, sang anak wanita itu bermimpi. Dalam mimpi itu dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat yang merupakan jawaban atas rasa penasarannya selama ini. 

“Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi. 

Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan keperkasaannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. 

Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari nafkah yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun mungkin dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya yang tidak puas atas hasil jerih payahnya itu. 

Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup dan kedinginan karena tersiram hujan serta terterpa hembusan angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya. Yang selalu dia ingat adalah di saat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya. 

Ku-berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya dia diterpa keletihan dan kesakitan. 

Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha, berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya dalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal kasih sayangnya itu pula yang memberikan perlindungan rasa aman pada saat anak-anaknya tertidur lelap. Sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara. 

Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya. Istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi. 

Ku-berikan kerutan di wajahnya untuk menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikir dan tenaganya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup bahagia. Badannya yang bungkuk adalah bukti bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung-jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. 

Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki." 

Terbangunlah anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa. Ketika ayahnya berdiri, anak wanitanya itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayanya. "AKU MENDENGAR DAN MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Jumat, 11 Februari 2011

Busana Muslimah Masa Kini


mungkin akan timbul pertanyaan mengapa saya menyebutkan 'Busana Muslimah Masa Kini'.??? 
biar Anda sendiri yg menjawabnya.!!! 

sekarang...liat-liat yoookkk.!!!

















Kamis, 10 Februari 2011

Seharusnya Wanita ...

Bismillahirrahmanirrahim.......
Assalamu'alaikum.........

Selamat pagi sore siang dan malam kawan..... salam kenal.....
Sebagai pembuka di blogQ ini aku ingin berbagi cerita* dg kalian. Cerita yg sebenarnya hanya ditujukan kepada kaum Hawa, tapi tak apalah jika kaum Adam ingin membacanya. Mari kita belajar dari kisah ini, lalu kita berdo'a pada-Nya agar apa yg terjadi di kisah tersebut tidak terjadi pada kita. Selamat membaca !!!


Wanita Biang Keburukan

Kita sudah tahu dan maklum tentang lelaki yang kasar. Kita sudah sering berinteraksi dan mendengar lelaki seperti ini. Akan tetapi, kita jarang sekali menemui atau mendengar wanita yang kasar. Meskipun wanita seperti ini ada.

Pada masa yang sudah cukup lama berlalu, saya pernah menerima surat dari seorang lelaki yang mengadu kepada saya tentang kekasaran istrinya. Pada waktu itu, sebenarnya saya malu untuk ikut campur urusan rumah tangganya. Bisa jadi akan membuat istrinya marah bila saya ikut campur.

Di sini saya hanya akan menceritakannya secara ringkas saja. Saya perlu menceritakan ini karena saya khawatir lupa persoalan ini lalu masuk dalam wilayah lalai. Saudara saya yang mulia itu mengatakan di dalam suratnya:

Allah telah mengaruniai diriku –dan Maha Tinggi kekuasaan-Nya- seorang istri yang benar-benar kasar.saya telah berusaha mendidiknya tanpa kenal lelah, namun ia tetap tidak berubah bagai pohon penuh duri yang tidak ada gunanya. Pohon yang bisanya hanya menjadi pengganggu di perumahan dan kebun-kebun. Bahkan mungkin perlu ditebang hingga ke akar-akarnya.

Saya belum menyadari bagaimana sebenarnya tingkat kekasaran hati dan ucapannya sebelum saya mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga yang berasal dari Asia Timur Jauh. Sebelum itu saya memang melihatnya sebagai wanita yang lembut, pemaaf,



suka tersenyum, dan berakhlak mulia. Ia juga berpenampilan rapi, menjaga kebersihan, dan baik hati. Sungguh, kenyataan ini membuat saya prihatin.

Saya juga berharap bahwa Anda tidak memahami bahwa saya memandang lebih terhadap pembantu yang baik itu daripada pandangan seorang insan yang tidak punya pamrih apa-apa. Saya bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya dan karenanya saya bisa mengerti tentang kesamaan derajat manusia dan kelembutan wanita yang semestinya.


Sebelum ada pembantu ini, saya jarang sarapan pagi dan seringkali mendapatkan sikap yang menyebalkan dan perlakuan kasar dari istri saya yang selalu bermuka masam. Setelah ada pembantu, saya selalu bisa sarapan pagi dengan penuh selera dan jauh dari sikap yang menyebalkan dan dan hal-hal yang membuat sesak dada.

Saya sangat tidak suka sesuatu yang menyebalkan dan mengundang kemarahan, kapan pun itu terjadi. Tetapi saya lebih tidak suka ketika ini terjadi sebelum sarapan pagi. Saya berlindung dari Allah dari ini. Saat darah baru mengalir lagi untuk menyambut pagi, sebelum ada roti dan secangkir teh, saya justru disuguhi dengan sesuatu yang menyebalkan dari istri.

Sebelum pembantu saya yang baik itu datang, istri saya yang menyebalkan itu biasanya –meski meminta izin dengan kepada saya dengan ungkapan yang sopan- bangun pagi dengan penuh perasaan yang berat dan ogah-ogahan untuk menyiapkan sarapan buat saya dan anak-anak kami sebelum mereka pergi ke sekolah. Pada saat seperti inilah ia tampak cemberut dan gondok. Mulutnya memanjang ke depan satu jengkal, kedua alisnya menyatu bagaikan tanduk, dan semua urat darahnya menonjol. Ia bolak-balik ke sana ke mari di dalam rumah bagaikan malaikat maut. Dengan kedongkolannya itu, ia mempersiapkan untuk kami hidangan seadanya, seperti telur yang digoreng dengan tergesa-gesa, roti yang digerakkan di atas api dengan bohong-bohongan agar terlihat seperti roti bakar. Keju keras yang dihadirkan di hadapanku tanpa ditata sama sekali agar aku sendiri yang menyajikannya. Itu pun diletakkan di atas piring yang kotor dan berdebu.

Itu semua belum seberapa, sedangkan yang benar-benar membuat dada saya sesak adalah ketika ia datang dan duduk di depanku pada pagi buta dengan muka yang kusut dan menyebalkan. Rambutnya acak-acakan, bajunya tidak karuan bentuknya, bau badannya juga tidak sedap. Sambil menyandar kepadaku, ia mengadukan kepadaku persoalan yang ia hadapi mulai dari pagi hingga malam. Ia mengoceh tentang semua pekerjaan rumah yang membuat penat dan lelah. Tentang membersihkan rumah, ayahnya yang sedang sakit, anak laki-lakinya yang tidak belajar kemarin, dan persoalan sehari-hari lainnya. Ini semuanya ia adukan kepadaku pada waktu pagi.

Saya tidak nafsu makan lagi. Racun menyebalkan dari istri saya telah merasuk ke dalam relung-relung darahku hingga membuat hatiku tersumbat. Racun ini telah membuatku tidak bergairah untuk melakukan apapun hingga sore hari.

Saya bersumpah kepada Anda bahwa sebenarnya saya sangat berharap seandainya pada pagi hari ia tidak bangun dari tidurnya. Saya ingin bangun sendirian lalu membangunkan anak-anakku dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Setelah itu, kami sarapan pagi dengan tenang, jauh dari kekesalan dan sesuatu yang menyebalkan. Sayang sekali, ia selalu bangun bagaikan burung gagak, lalu menyiapkan sarapan pagi untuk kami semaunya. Ia selalu bangun seolah-olah senantiasa didatangi oleh kepala hantu saat pagi.

Setelah saya mendatangkan pembantu dari Asia Timur Jauh tersebut, saya merasakan perlakuan yang berbeda bagaikan antara timur dan barat. Sarapan selalu tersaji dengan menu yang menggugah selera, piring-piring selalu bersih dan berkilau bagaikan cermin, dan juice yang segar dan dingin selalu disuguhkan untuk kami dengan gelas-gelas yang bening bagaikan kristal.

Gelas-gelas kristal dan piring-piring yang indah tersebut sebenarnya sudah kami miliki pada awal pernikahan kami dahulu namun hanya disimpan saja. Istri saya tidak rela untuk menggunakannya. Ia lebih memilih untuk menghidangkan sarapan pagi kami dengan piring yang lama dan dekil seperti wajahnya atau wajah para pengemis.

Sejak satu pekan setelah piring-piring yang bagus itu digunakan, istri saya selalu ngomel-ngomel saat kami sedang sarapan. Ia berteriak dengan suara yang memekakkan telinga dan menyakiti hati, “Mengapa kalian sarapan dengan tempat makanan itu?”

Ia hampir saja menyerang kami dan menumpahkan makanan di atas piring yang berada di depan kami. Ia pun mengangkatnya. Kami sudah tidak bisa memperlakukannya dengan senyuman lagi. Kerongkongan kami terasa tersumbat untuk menelan sarapan yang sudah kami kunyah. Akhirnya, saya berkata kepadanya dengan nada marah, “Ya Allah, semoga pagi ini dilimpahkan kebaikan kepada kami. Apakah kami harus pelit terhadap diri kami meski dengan piring ini?”

Maka ia menjawab dengan nada tinggi sambil menunjukkan tangannya, “Piring-piring ini hanya untuk tamu.” 

Saya hampir saja mengatakan, anggaplah kami ini sebagai tamu di rumah ini. Akan tetapi, saya mengurungkannya dan mengatakan dengan nada rendah, “Piring-piring ini, akulah yang membelinya dengan uangku sendiri. Hari ini aku akan membelikan untukmu piring-piring yang lain sebagai pengganti. Simpanlah sebagai kenang-kenangan untukmu dan kembalilah tidur. Aku memohon engkau mau mengerti.”

Pada saat yang sama, pembantu datang untuk menyajikan juice segar di gelas-gelas kristal. Ia menyajikannya dengan penuh senyuman. Kemarahan istri saya pun semakin memuncak dibuatnya dan berteriak, “Apa lagi ini! Pembantu ini hanya membawa bencana bagi kalian dan aku di rumah ini.” Istri saya menghampirinya dengan darah yang sudah naik di ubun-ubun. Pembantu itu tidak mengerti apa maksudnya. Ia menggoyangkan nampan dari perak yang bawa pembantu itu hingga menyebabkan gelas-gelas juice itu jatuh di karpet. Wanita tersebut bereriak sambil menangis karena terkena pecahan gelas. Itulah keputusan yang akhirnya diambil oleh istriku yang menyebalkan dan sewenang-wenang.

Ia berkata, “Persoalan ini tidak boleh terus berlanjut seperti ini. Pembantu ini hanya akan merusak kalian dan rumah ini (misalnya ketenangan kita menjadi terganggu). Saya sendiri yang akan bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kalian.” (Na’udzu billah).

Istriku pun melaksanakan janjinya itu esok harinya. Ia bangun bersama burung-burung malam dan mulai berputar-putar di dalam rumah bagaikan malaikat maut. Mulutnya maju satu jengkal dan urat-urat darahnya keluar. Kedua alisnya bertemu dan emosinya naik melebihi ukuran emosi manusia sewajarnya.

Ia menyajikan sarapan pagi untuk kami di atas piring-piring lusuh yang tidak jauh beda dengan wajahnya atau wajah para pengemis. Menu sarapannya beda jauh antara yang disajikan olehnya dan yang disajikan oleh pembantu yang baik itu. Ia hanya menghidangkan untuk kami telur yang tidak kami ketahui apakah itu telur rebus atau telur dadar dan roti yang separuhnya adalah garam. Rasanya kami perlu merendamnya di air dingin dahulu agar tidak terlalu asin. Ia juga melengkapinya dengan keju dan pemanis yang ia lemparkan ke arahku seperti melempar batu. Allah telah mengganti surga kami dengan neraka.

Juice segar yang biasanya disajikan pembantu yang baik itu di gelas-gelas kristal yang berkilauan bagaikan cahaya kini telah berganti. Istriku yang menyebalkan itu telah menggantinya dengan menyajikan botol juice rebus yang sudah disimpan sebelumnya. Saya berkata sebagai gurauan,”Juice rebus?” Ia pun menjawab dengan kasar, “Tidak usah diminum kalau tidak suka.”

Ia menyajikan minuman itu di gelas-gelas yang sudah kusam bagaikan anjing yang terserang kudis. Ia meletakkannya begitu saja di depanku tanpa ada sepatah kata pun. Sebenarnya itu tidak ada bedanya dengan air dari kran daripada ia menyajikan juice seperti itu untuk saya dan anak-anak.

Aku mengambil minuman di gelas itu dengan perasaan kesal. Sambil memandangi gelasnya, aku berkata, “Gelas ini tidak bersih.” Ia pun menjawab dengan nada keras dan pandangan yang tidak mengenakkan, “Minum saja dan jangan banyak bicara.”

Aku bangkit dari tempat sarapan dan tidak memakan sesuap pun. Aku tidak berselera untuk sarapan. Aku tidak berselera untuk memakan sarapan yang disajikan oleh istriku. Aku tidak pernah merasakan panasnya neraka sebelum aku merasakan nikmatnya surga. Betapa jauhnya perlakuan istriku yang menyebalkan ini bila dibandingkan dengan perlakuan pembantu yang baik itu. Sungguh, hatiku sangat merana karena kenyataan ini.

Aku masuk ke kamar untuk berganti baju tanpa ada kata-kata karena kesal. Istriku pun membuntutiku dari belakang bagaikan hakim yang terburu-buru. Ia berteriak, “Mengapa engkau tidak sarapan hari ini? Apa karena aku yang menyiapkan, bukan oleh pembantu itu? Dasar suami kurang waras! Engkau suami yang menyakitkan hati! Wahai Dzat Yang Maha Pembuka lagi Maha Mengetahui! Ya Allah, ini adalah pagi yang baik. Kami tidak melihat adanya keburukan di hari ini. Akan tetapi, sikap suamiku ini benar-benar sebuah keburukan yang kami dengar darinya. Kami berlindung kepada Allah darinya!”

Apa yang aku katakan kepadanya? Aku telah membencinya. Lubuk hatiku yang paling dalam telah membencinya. Pada saat itulah, aku ingin membuatnya mati kutu karena kemarahannya. Aku tidak menjawabnya sama sekali hingga membuatnya berteriak lagi, “Mengapa engkau tidak menjawab?”

Aku sengaja membiarkannya bagai berbicara kepada tembok rumah. Ia pun bertambah marah dan berteriak, “Apa yang terjadi denganmu? Jawablah!” dalam hatiku berbicara, bila tembok itu mau menjawab, aku akan menjawab. Akhirnya, ia keluar kamar dengan menundukkan kepala. Ia terus berteriak dan menjerit lalu menangis.

Aku ingin memanasi mobilku. Aku merasa sedih karena kondisi yang kualami. Hidupku bersamanya tidak ada artinya. Hidup yang membosankan! Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan satu hari pun bersamanya. Ia benar-benar perempuan yang kasar. Aku tidak pernah seharipun melihat ia tersenyum manis atau sesaatpun dalam ketenangan, apalagi kata-kata sayang. Aku tidak pernah merasakan kelembutan yang terdengar darinya. Kelembutan yang identik dengan perempuan. Kelembutan yang dikatakan oleh orang-orang bahwa itu merupakan kosakata mudzakkar hanya di dalam kamus-kamus bahasa saja, tetapi faktanya itu merupakan kosakata untuk untuk perempuan. Namun istriku ini tidak mengerti sama sekali bahwa wanita itu adalah kelembutan, cinta, sayang, belas kasihan, atau sangat ingin membahagiakan suami. Semua ini tertutupi oleh satu hal. Ya, hanya satu hal saja yaitu cepat marah. Cepat marah yang tidak ada batasnya. Ia memang terbiasa dengan sifat ini dan merupakan sifat khusus pada dirinya. Sifat itu senantiasa keluar darinya secara alami layaknya panas yang pasti keluar dari api yang menyala dan gonggongan dari anjing.

Di perjalanan antara rumah dan tempat kerja, aku telah mengambil keputusan final dan sudah tidak bisa diubah lagi bahwa aku akan menceraikannya. Siapakah yang sanggup hidup bersama ular yang berbisa di satu rumah?


*cerita diambil dari buku karya Abdullah bin Al-Ju’aitsan dg judul Aswa’ul Zaujat yg diterjemahkan oleh Agus Suwandi dg judul PERILAKU BURUK YANG HARUS DIHINDARI ISTRI dg editornya Abu Hudzaifah, Lc.