Kamis, 10 Februari 2011

Seharusnya Wanita ...

Bismillahirrahmanirrahim.......
Assalamu'alaikum.........

Selamat pagi sore siang dan malam kawan..... salam kenal.....
Sebagai pembuka di blogQ ini aku ingin berbagi cerita* dg kalian. Cerita yg sebenarnya hanya ditujukan kepada kaum Hawa, tapi tak apalah jika kaum Adam ingin membacanya. Mari kita belajar dari kisah ini, lalu kita berdo'a pada-Nya agar apa yg terjadi di kisah tersebut tidak terjadi pada kita. Selamat membaca !!!


Wanita Biang Keburukan

Kita sudah tahu dan maklum tentang lelaki yang kasar. Kita sudah sering berinteraksi dan mendengar lelaki seperti ini. Akan tetapi, kita jarang sekali menemui atau mendengar wanita yang kasar. Meskipun wanita seperti ini ada.

Pada masa yang sudah cukup lama berlalu, saya pernah menerima surat dari seorang lelaki yang mengadu kepada saya tentang kekasaran istrinya. Pada waktu itu, sebenarnya saya malu untuk ikut campur urusan rumah tangganya. Bisa jadi akan membuat istrinya marah bila saya ikut campur.

Di sini saya hanya akan menceritakannya secara ringkas saja. Saya perlu menceritakan ini karena saya khawatir lupa persoalan ini lalu masuk dalam wilayah lalai. Saudara saya yang mulia itu mengatakan di dalam suratnya:

Allah telah mengaruniai diriku –dan Maha Tinggi kekuasaan-Nya- seorang istri yang benar-benar kasar.saya telah berusaha mendidiknya tanpa kenal lelah, namun ia tetap tidak berubah bagai pohon penuh duri yang tidak ada gunanya. Pohon yang bisanya hanya menjadi pengganggu di perumahan dan kebun-kebun. Bahkan mungkin perlu ditebang hingga ke akar-akarnya.

Saya belum menyadari bagaimana sebenarnya tingkat kekasaran hati dan ucapannya sebelum saya mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga yang berasal dari Asia Timur Jauh. Sebelum itu saya memang melihatnya sebagai wanita yang lembut, pemaaf,



suka tersenyum, dan berakhlak mulia. Ia juga berpenampilan rapi, menjaga kebersihan, dan baik hati. Sungguh, kenyataan ini membuat saya prihatin.

Saya juga berharap bahwa Anda tidak memahami bahwa saya memandang lebih terhadap pembantu yang baik itu daripada pandangan seorang insan yang tidak punya pamrih apa-apa. Saya bersyukur dengan apa yang ada pada dirinya dan karenanya saya bisa mengerti tentang kesamaan derajat manusia dan kelembutan wanita yang semestinya.


Sebelum ada pembantu ini, saya jarang sarapan pagi dan seringkali mendapatkan sikap yang menyebalkan dan perlakuan kasar dari istri saya yang selalu bermuka masam. Setelah ada pembantu, saya selalu bisa sarapan pagi dengan penuh selera dan jauh dari sikap yang menyebalkan dan dan hal-hal yang membuat sesak dada.

Saya sangat tidak suka sesuatu yang menyebalkan dan mengundang kemarahan, kapan pun itu terjadi. Tetapi saya lebih tidak suka ketika ini terjadi sebelum sarapan pagi. Saya berlindung dari Allah dari ini. Saat darah baru mengalir lagi untuk menyambut pagi, sebelum ada roti dan secangkir teh, saya justru disuguhi dengan sesuatu yang menyebalkan dari istri.

Sebelum pembantu saya yang baik itu datang, istri saya yang menyebalkan itu biasanya –meski meminta izin dengan kepada saya dengan ungkapan yang sopan- bangun pagi dengan penuh perasaan yang berat dan ogah-ogahan untuk menyiapkan sarapan buat saya dan anak-anak kami sebelum mereka pergi ke sekolah. Pada saat seperti inilah ia tampak cemberut dan gondok. Mulutnya memanjang ke depan satu jengkal, kedua alisnya menyatu bagaikan tanduk, dan semua urat darahnya menonjol. Ia bolak-balik ke sana ke mari di dalam rumah bagaikan malaikat maut. Dengan kedongkolannya itu, ia mempersiapkan untuk kami hidangan seadanya, seperti telur yang digoreng dengan tergesa-gesa, roti yang digerakkan di atas api dengan bohong-bohongan agar terlihat seperti roti bakar. Keju keras yang dihadirkan di hadapanku tanpa ditata sama sekali agar aku sendiri yang menyajikannya. Itu pun diletakkan di atas piring yang kotor dan berdebu.

Itu semua belum seberapa, sedangkan yang benar-benar membuat dada saya sesak adalah ketika ia datang dan duduk di depanku pada pagi buta dengan muka yang kusut dan menyebalkan. Rambutnya acak-acakan, bajunya tidak karuan bentuknya, bau badannya juga tidak sedap. Sambil menyandar kepadaku, ia mengadukan kepadaku persoalan yang ia hadapi mulai dari pagi hingga malam. Ia mengoceh tentang semua pekerjaan rumah yang membuat penat dan lelah. Tentang membersihkan rumah, ayahnya yang sedang sakit, anak laki-lakinya yang tidak belajar kemarin, dan persoalan sehari-hari lainnya. Ini semuanya ia adukan kepadaku pada waktu pagi.

Saya tidak nafsu makan lagi. Racun menyebalkan dari istri saya telah merasuk ke dalam relung-relung darahku hingga membuat hatiku tersumbat. Racun ini telah membuatku tidak bergairah untuk melakukan apapun hingga sore hari.

Saya bersumpah kepada Anda bahwa sebenarnya saya sangat berharap seandainya pada pagi hari ia tidak bangun dari tidurnya. Saya ingin bangun sendirian lalu membangunkan anak-anakku dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Setelah itu, kami sarapan pagi dengan tenang, jauh dari kekesalan dan sesuatu yang menyebalkan. Sayang sekali, ia selalu bangun bagaikan burung gagak, lalu menyiapkan sarapan pagi untuk kami semaunya. Ia selalu bangun seolah-olah senantiasa didatangi oleh kepala hantu saat pagi.

Setelah saya mendatangkan pembantu dari Asia Timur Jauh tersebut, saya merasakan perlakuan yang berbeda bagaikan antara timur dan barat. Sarapan selalu tersaji dengan menu yang menggugah selera, piring-piring selalu bersih dan berkilau bagaikan cermin, dan juice yang segar dan dingin selalu disuguhkan untuk kami dengan gelas-gelas yang bening bagaikan kristal.

Gelas-gelas kristal dan piring-piring yang indah tersebut sebenarnya sudah kami miliki pada awal pernikahan kami dahulu namun hanya disimpan saja. Istri saya tidak rela untuk menggunakannya. Ia lebih memilih untuk menghidangkan sarapan pagi kami dengan piring yang lama dan dekil seperti wajahnya atau wajah para pengemis.

Sejak satu pekan setelah piring-piring yang bagus itu digunakan, istri saya selalu ngomel-ngomel saat kami sedang sarapan. Ia berteriak dengan suara yang memekakkan telinga dan menyakiti hati, “Mengapa kalian sarapan dengan tempat makanan itu?”

Ia hampir saja menyerang kami dan menumpahkan makanan di atas piring yang berada di depan kami. Ia pun mengangkatnya. Kami sudah tidak bisa memperlakukannya dengan senyuman lagi. Kerongkongan kami terasa tersumbat untuk menelan sarapan yang sudah kami kunyah. Akhirnya, saya berkata kepadanya dengan nada marah, “Ya Allah, semoga pagi ini dilimpahkan kebaikan kepada kami. Apakah kami harus pelit terhadap diri kami meski dengan piring ini?”

Maka ia menjawab dengan nada tinggi sambil menunjukkan tangannya, “Piring-piring ini hanya untuk tamu.” 

Saya hampir saja mengatakan, anggaplah kami ini sebagai tamu di rumah ini. Akan tetapi, saya mengurungkannya dan mengatakan dengan nada rendah, “Piring-piring ini, akulah yang membelinya dengan uangku sendiri. Hari ini aku akan membelikan untukmu piring-piring yang lain sebagai pengganti. Simpanlah sebagai kenang-kenangan untukmu dan kembalilah tidur. Aku memohon engkau mau mengerti.”

Pada saat yang sama, pembantu datang untuk menyajikan juice segar di gelas-gelas kristal. Ia menyajikannya dengan penuh senyuman. Kemarahan istri saya pun semakin memuncak dibuatnya dan berteriak, “Apa lagi ini! Pembantu ini hanya membawa bencana bagi kalian dan aku di rumah ini.” Istri saya menghampirinya dengan darah yang sudah naik di ubun-ubun. Pembantu itu tidak mengerti apa maksudnya. Ia menggoyangkan nampan dari perak yang bawa pembantu itu hingga menyebabkan gelas-gelas juice itu jatuh di karpet. Wanita tersebut bereriak sambil menangis karena terkena pecahan gelas. Itulah keputusan yang akhirnya diambil oleh istriku yang menyebalkan dan sewenang-wenang.

Ia berkata, “Persoalan ini tidak boleh terus berlanjut seperti ini. Pembantu ini hanya akan merusak kalian dan rumah ini (misalnya ketenangan kita menjadi terganggu). Saya sendiri yang akan bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk kalian.” (Na’udzu billah).

Istriku pun melaksanakan janjinya itu esok harinya. Ia bangun bersama burung-burung malam dan mulai berputar-putar di dalam rumah bagaikan malaikat maut. Mulutnya maju satu jengkal dan urat-urat darahnya keluar. Kedua alisnya bertemu dan emosinya naik melebihi ukuran emosi manusia sewajarnya.

Ia menyajikan sarapan pagi untuk kami di atas piring-piring lusuh yang tidak jauh beda dengan wajahnya atau wajah para pengemis. Menu sarapannya beda jauh antara yang disajikan olehnya dan yang disajikan oleh pembantu yang baik itu. Ia hanya menghidangkan untuk kami telur yang tidak kami ketahui apakah itu telur rebus atau telur dadar dan roti yang separuhnya adalah garam. Rasanya kami perlu merendamnya di air dingin dahulu agar tidak terlalu asin. Ia juga melengkapinya dengan keju dan pemanis yang ia lemparkan ke arahku seperti melempar batu. Allah telah mengganti surga kami dengan neraka.

Juice segar yang biasanya disajikan pembantu yang baik itu di gelas-gelas kristal yang berkilauan bagaikan cahaya kini telah berganti. Istriku yang menyebalkan itu telah menggantinya dengan menyajikan botol juice rebus yang sudah disimpan sebelumnya. Saya berkata sebagai gurauan,”Juice rebus?” Ia pun menjawab dengan kasar, “Tidak usah diminum kalau tidak suka.”

Ia menyajikan minuman itu di gelas-gelas yang sudah kusam bagaikan anjing yang terserang kudis. Ia meletakkannya begitu saja di depanku tanpa ada sepatah kata pun. Sebenarnya itu tidak ada bedanya dengan air dari kran daripada ia menyajikan juice seperti itu untuk saya dan anak-anak.

Aku mengambil minuman di gelas itu dengan perasaan kesal. Sambil memandangi gelasnya, aku berkata, “Gelas ini tidak bersih.” Ia pun menjawab dengan nada keras dan pandangan yang tidak mengenakkan, “Minum saja dan jangan banyak bicara.”

Aku bangkit dari tempat sarapan dan tidak memakan sesuap pun. Aku tidak berselera untuk sarapan. Aku tidak berselera untuk memakan sarapan yang disajikan oleh istriku. Aku tidak pernah merasakan panasnya neraka sebelum aku merasakan nikmatnya surga. Betapa jauhnya perlakuan istriku yang menyebalkan ini bila dibandingkan dengan perlakuan pembantu yang baik itu. Sungguh, hatiku sangat merana karena kenyataan ini.

Aku masuk ke kamar untuk berganti baju tanpa ada kata-kata karena kesal. Istriku pun membuntutiku dari belakang bagaikan hakim yang terburu-buru. Ia berteriak, “Mengapa engkau tidak sarapan hari ini? Apa karena aku yang menyiapkan, bukan oleh pembantu itu? Dasar suami kurang waras! Engkau suami yang menyakitkan hati! Wahai Dzat Yang Maha Pembuka lagi Maha Mengetahui! Ya Allah, ini adalah pagi yang baik. Kami tidak melihat adanya keburukan di hari ini. Akan tetapi, sikap suamiku ini benar-benar sebuah keburukan yang kami dengar darinya. Kami berlindung kepada Allah darinya!”

Apa yang aku katakan kepadanya? Aku telah membencinya. Lubuk hatiku yang paling dalam telah membencinya. Pada saat itulah, aku ingin membuatnya mati kutu karena kemarahannya. Aku tidak menjawabnya sama sekali hingga membuatnya berteriak lagi, “Mengapa engkau tidak menjawab?”

Aku sengaja membiarkannya bagai berbicara kepada tembok rumah. Ia pun bertambah marah dan berteriak, “Apa yang terjadi denganmu? Jawablah!” dalam hatiku berbicara, bila tembok itu mau menjawab, aku akan menjawab. Akhirnya, ia keluar kamar dengan menundukkan kepala. Ia terus berteriak dan menjerit lalu menangis.

Aku ingin memanasi mobilku. Aku merasa sedih karena kondisi yang kualami. Hidupku bersamanya tidak ada artinya. Hidup yang membosankan! Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan satu hari pun bersamanya. Ia benar-benar perempuan yang kasar. Aku tidak pernah seharipun melihat ia tersenyum manis atau sesaatpun dalam ketenangan, apalagi kata-kata sayang. Aku tidak pernah merasakan kelembutan yang terdengar darinya. Kelembutan yang identik dengan perempuan. Kelembutan yang dikatakan oleh orang-orang bahwa itu merupakan kosakata mudzakkar hanya di dalam kamus-kamus bahasa saja, tetapi faktanya itu merupakan kosakata untuk untuk perempuan. Namun istriku ini tidak mengerti sama sekali bahwa wanita itu adalah kelembutan, cinta, sayang, belas kasihan, atau sangat ingin membahagiakan suami. Semua ini tertutupi oleh satu hal. Ya, hanya satu hal saja yaitu cepat marah. Cepat marah yang tidak ada batasnya. Ia memang terbiasa dengan sifat ini dan merupakan sifat khusus pada dirinya. Sifat itu senantiasa keluar darinya secara alami layaknya panas yang pasti keluar dari api yang menyala dan gonggongan dari anjing.

Di perjalanan antara rumah dan tempat kerja, aku telah mengambil keputusan final dan sudah tidak bisa diubah lagi bahwa aku akan menceraikannya. Siapakah yang sanggup hidup bersama ular yang berbisa di satu rumah?


*cerita diambil dari buku karya Abdullah bin Al-Ju’aitsan dg judul Aswa’ul Zaujat yg diterjemahkan oleh Agus Suwandi dg judul PERILAKU BURUK YANG HARUS DIHINDARI ISTRI dg editornya Abu Hudzaifah, Lc.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar