Minggu, 20 Februari 2011

Kehidupan Amerika (Part I)

Sesuai judul di atas maka tak ada salahnya kalau kali ini saya cantumkan gambar bendera milik negeri Paman Sam yang merupakan negara terbesar ke-3 atau ke-4 berdasarkan total luas wilayahnya dan terbesar ke-3 berdasarkan jumlah penduduk.

Tulisan saya kali ini diambil dari tulisan Bapak Alm. H.M. Gazali -allahummaghfir lahu wa 'aafihi wa'fu 'anhu- yang kebetulan memang berkesempatan berkunjung ke negri Paman Sam tersebut. berikut kisah yang beliau tuliskan... 

Pada bulan September 2002 yang lalu ada 25 orang kyai dari pesantren di Indonesia yang diundang oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Mereka ditempatkan di Amherst, Massachussettes. Mereka mendapatkan training dari ITD (Institute for Training and Development) University of Massachussettes USA kerjasama dengan INSIST (Institute for Social and Transformation) Yogyakarta selama dua minggu ditambah seminggu ke Albany, Washington D.C., dan New York. 

Ada sejumlah pertanyaan yang tentu saja terlontar untuk program tersebut. Untuk apa para kyai tersebut diundang ke Amerika? Apakah ada pesantren di Amerika Serikat, sehingga mereka diundang untuk mengikuti training di sana? Ataukah justeru mereka diundang ke sana hanya untuk sekadar cuci otak agar pemikiran mereka dapat dipengaruhi oleh pihak Amerika dan dapat membenarkan sikap arogansi Amerika yang terlihat semakin nyata saat ini? Pertanyaan itu wajar saja muncul mengingat hampir dapat dipastikan bahwa di Amerika tentu saja kecil kemungkinan ada pesantren. Kalau ingin mengadakan training kepesantrenan untuk para kyai, mengapa harus ke Amerika, tidak ke Timur Tengah? Tentu saja diundangnya sejumlah kyai pesantren ke Amerika tersebut dianggap oleh masyarakat Indonesia sebagai usaha Amerika untuk mendinginkan suasana kemarahan umat Islam yang tampak semakin geram terhadap ulah negara Adidaya tersebut kepada sejumlah negara Islam. Bahkan para kyai sendiri pun agak bertanya-tanya dan malahan bercampur syak wasangka, mengapa mereka diundang ke Amerika Serikat?

Ketika di Amerika, kyai tersebut dibawa ke tempat-tempat pendidikan, dari pendidikan pra-TK, TK, SD (mencakup SMP) baik SD Islam maupun SD biasa, SMA baik negeri maupun swasta seperti Cushing Academy (SMA termahal di Amerika yang biaya pertahunnya sekitar 350 juta), Universitas George Town yang memiliki Fakultas tentang Islamic Studies. 

Dari program training yang diberikan oleh ITD yang kebanyakan waktunya, para peserta dibawa melihat-lihat secara langsung pengelolaan pendidikan di Amerika Serikat, ternyata cukup banyak hal yang dapat dijadikan bahan pelajaran dan bandingan untuk pengembangan program pembelajaran di Indonesia. 

Kalau dalam Islam, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad”, maka tampaknya, di Amerika gaung hadits tersebut lebih menggema. Sebagai contoh, pendidikan di Indonesia dimulai sejak TK sampai dengan S.3, sedangkan di Amerika sebelum TK masih ada pra-TK di mana anak-anak titipan dititipkan di tempat asuhan yang tidak hanya sekadar tempat penitipan anak oleh orang tua yang bekerja di kantor, akan tetapi tempat penitipan anak tersebut dilengkapi dengan aneka ragam alat bermain sehingga sebelum anak masuk TK, mereka sudah mengerti banyak tentang alat-alat peraga. Contoh lain, di suatu kelas di salah satu SD di Amerika, untuk satu kelas saja memiliki perpustakaan tersendiri, memiliki televisi yang dilengkapi dengan CD player dan handy camera, kelas yang dipenuhi dengan tempelan foster-foster dunia fauna dan flora, angkasa, fisika dan lainnya yang membuat siswa yang baru saja masuk ke dalam kelas, sebelum membuka buku, baru melihat suasana kelas, sudah terbuka pikiran mereka terhadap dunia ilmu pengetahuan. SMA di sana memiliki perpustakaan yang mungkin lebih besar dari perpustakaan daerah serta dilengkapi dengan internet, bahkan mereka memiliki peralatan shooting yang lengkap dan peralatan yang mutakhir. Mereka memiliki studio musik, teater, peralatan cetak, dan olahraga yang serba lengkap. Menyaksikan Perpustakaan Universitas Amherst yang memiliki 26 tingkat saja sudah membuat kita berdecak kagum, apalagi kalau kita melihat isi perpustakaannya yang amat lengkap. Dan yang menarik lagi para orangtua yang penglihatan mereka sudah agak rabun sering didatangi sukarelawan-sukarelawan dari anak-anak SMA yang datang ke rumah mereka untuk membacakan buku-buku yang mereka senangi, dan apabila buku tersebut memiliki kaset, maka siswa (sukarelawan) tersebut meminjamkan ke perpustakaan yang memiliki kaset tersebut untuk diperdengarkan kepada para orangtua yang tidak begitu mampu lagi membaca. 

Dari perjalanan ke Universitas George Town diperoleh keterangan bahwa dari 11 September 2001 ada hikmah peristiwa yang bisa diambil, yakni, masyarakat Amerika yang sebelum peristiwa 11 September 2001 memeluk agama Islam setiap hari tidak kurang dari sekitar 2000-an orang, setelah peristiwa 11 September 2001 tersebut orang yang masuk Islam berlipat ganda 3x lipat bahkan lebih yakni antara 6000 hingga 7000 orang yang berislam setiap hari. Ada beberapa hal yang mendukung semakin semaraknya orang Amerika memeluk Islam; hal itu dimungkinkan oleh pengaruh bacaan. Karena buku yang paling laku di Amerika saat ini adalah pertama tentang siapa Usamah ibn Laden?, kedua tentang apa itu Islam? Selain itu tentang peri kehidupan sufistik kebanyakan umat Islam di Amerika. Umat Islam banyak yang hidupnya sederhana akan tetapi mereka dapat hidup tenang dan tenteram, sementara orang Amerika kebanyakan, mereka hidup bergelimang harta, namun mereka sering merasa dengan memanjakan diri dengan harta pun mereka tidak merasa puas dan tenang, bahkan banyak di antara mereka yang justeru semakin gelisah. Nuansa kehidupan seperti itulah yang barangkali membuat mereka lebih tertarik untuk memilih Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar